Minggu, 23 September 2018

0

- CATATAN SUNYI (MAHASISWA) -
Malam ini, bulan bersinar begitu terang. Menerpa pelepah-pelepah pohon kelapa, menyinari kuncup tanaman-tanaman berbunga, hingga menerpa gubuk-gubuk kecil yang tak terjamah janji-janji manis pemerintah. Tetapi, sekarang cahaya itu perlahan redup menuju tengah malam. Perlahan-lahan menghilang tertutup awan.
Ketika aku melihat itu, aku seolah melihat bagaimana teman-teman mahasiswa-ku hari-hari ini. Sejatinya, mereka itu bak rembulan, memberikan cahaya pada pada pejalan yang kehilangan arah. Memberi petunjuk pada pengelana yang tak tahu jalan menuju rumah. Memberikan secerca harapan pada si miskin untuk melalui malam tanpa lampu-lampu terang seperti bangunan-bangunan tinggi ibu kota.
Dulu, rembulan itu terang benderang dan menjadi harapan baru untuk sebongkah tanah. Tapi semakin menuju tengah malam, cahaya itu kian meredup. Hanya menyisakan pendaran yang mengambang di kesunyian malam. Aku hanya khawatir, cahaya itu tak bertahan hingga fajar.
Aku begitu asing dengan dunia saat ini. Tak lagi kutemui percakapan-percakapan tentang bagaimana nasib si miskin hari-hari ini. Tak ada lagi debat argumen, yang ada hanyalah mengedepankan sentimen. Dunia kampus yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan, sekarang hanya berisi debat pelataran, akibat kurangnya pengetahuan.
Yang pintar, mereka terlalu gengsi untuk bercengkrama dengan yang sederhana. mereka seperti punya dunia sendiri, menumpuk ilmu tanpa ingin berbagi. Benar yang dikatakan oleh Tan Malaka “bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.
Sebagian, ada yang beranggapan untuk apa memikirkan negeri ini, untuk apa mengkritik pemerintah, tak ada gunanya, demosntrasi pada pemerintah hanya membuat jalanan macet, menghabiskan waktu sia-sia, mending selesaikan kuliah dengan cepat, terus cari kerja, dapat gaji, kan asik. Bagiku, mereka yang berbicara seperti itu hanyalah orang dungu. Menyelesaikan kuliah itu suatu keharusan. Bersuara, berpendapat, mengkritik atas suatu kebijakan yang tidak mewujudkan keadilan, itu adalah suatu kewajiban.
Saat ini kita tidak hidup dalam republic of Hope, tapi hidup dalam republic of Fear. Hidup dalam ketakutan untuk menyatakan kebenaran. Takut untuk bersuara. Tidak berani mengambil pendirian dalam berbagai persoalan. Dan kita menikmati itu.

Lalu kamu mau jadi apa? Tanya mereka.

Soe Hok Gie pernah berkata, hidup ini “hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, aku memilih untuk menjadi manusia merdeka”. --Merdeka dalam berpikir, merdeka dalam bersuara, merdeka dalam berpendapat, merdeka jiwa dan  raga. Dengan merdeka kita menikmati indahnya kehidupan, menciptakan senyum-senyum damai, dan menjadi harapan baru kepada rakyat bahwa ada masa depan yang cerah di esok hari.
Didalam mitologi, seorang petualang selalu punya semacam halusinasi melihat kuda yang bertanduk satu (unicorn), dan itu pertanda baik bahwa perjalanannya akan sampai pada tujuan. Artinya, pada tanduk kuda itulah kita gantungkan bahwa masih ada harapan untuk untuk hari esok yang lebih baik. Masih ada sisa-sisa cahaya  yang menuntun kita melewati malam yang suram demi pagi yang indah esok hari. Selalu ada harapan dalam tiap perjuangan.

(Riza Fahlevi. 2018)

Author Image

About Fahlevinisme.blogspot.com
Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

Tidak ada komentar:

Posting Komentar