Selasa, 24 Desember 2019

stunting

0


APA ITU STUNTING?

Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh. Ini bisa dialami oleh anak-anak yang mendapatkan gizi buruk, terkena infeksi berulang, dan stimulasi psikososial tidak memadai. Anak dikatakan stunting ketika pertumbuhan tinggi badannya tidak sesuai grafik pertumbuhan standar dunia.

Data riset Kesehatan Nasional (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8% persen balita di Indonesia mengalami stunting. Ambang batas prevalansi stunting 20 sampai kurang dari 30 persen sebagai tinggi, dan lebih dari atau sama dengan 30 persen sangat tinggi. Banyak yang tidak mengetahui kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah dari gizi kronis pada pertumbuhan tubuh anak. Terlebih lagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih dibawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat.
Pasalnya, stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi. Anak masuk ke dalam katagori stunting ketika panjang atau tinggi badannya menunjukkan angka di bawah -2 standar deviasi (SD). Penilaian status gizi yang satu ini biasanya menggunakan grafik pertumbuhan anak (GPA) dari WHO.





Adapun penyebab stunting ialah kurangnya asupan nutrisi pada masa 1000 HPK. Stunting merupakan hasil dari berbagai faktor yang terjadi di masa lalu. Misalnya asupan gizi yang buruk, berkali-kali terserang penyakit infeksi, serta berat badan lahir rendah (BBLR). Kondisi tidak tercukupinya asupan gizi anak ini biasanya tidak hanya terjadi stelah ia lahir, melainkan bisa dimulai sejak ia masih di dalam kandungan. WHO sebagai badan kesehatan dunia menyatakan bahwa sekitar 20 persen kejadian stunting suah terjadi saat bayi masih berada di dalam kandungan. Hal ini disebabkan oleh asupan ibu selama hamil kurang bergizi dan berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin cenderung sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Tanda-tanda stunting: tubuh pendek, berat badan tidak naik (bahkan cenderung menurun), pertumbuhan gigi terlambat, kemampuan belajar menurun. Adapun akibat dari stunting, dampak jangka pendek: terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pada pertumbuhan fisiknya, serta gangguan metabolisme. Dampak jangka panjang: stunting yang tidak ditangani degan baik sedini mungkin akan menurunkan kemampuan kognitif otak, kekebalan tubuh lemah sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi munculnya penyakit metabolik seperti kegemukan, penyakit jantung, dan penyakit pembuluh darah.

Oleh karena itu stunting sangat perlu diwaspadai, mengapa?

·         Anak:
-          Hambatan perkembangan
-          Penurunan fungsi kekebalan
-          Penurunan fungsi kognitif
-          Gangguan sistem pembakaran lemak.
·         Dewasa:
-          Obesitas
-          Penurunan toleransi glukosa
-          Penyakit jantung koroner
-          Hipertensi
-          Osteoporosis.

Susu merupakan salah satu hal terpnting bagi pertumbuhan anak, sebab susu adalah salah satu sumber protein hewani dan sumber kalsium yang baik dan disukai oleh anak. Susu merupakan salah satu asupan penting dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Susu memiliki kandungan yang tinggi yang dibutuhkan untuk kesehatan tulang. Oleh karena itu, kebiasaan minum susu harus dimulai sejak dini. Adapun jenis-jenis susu disekitar kita: Air Susu Ibu (ASI), Susu UHT, Susu Sapi Segar, Susu Kental Manis (SKM), Susu Bubuk. Namun yang perlu diingat adalah hati-hati dalam memilih susu, karena tidak semua susu baik untuk dikonsumsi sehari-hari. Salah satunya adalah susu kental manis (SKM). Sebab menurut para ahli, susu kental manis bukanlah susu, tetapi minuman yang terbuat dari gula dan susu.


Ada 3 (tiga) komponen penting dalam penanggulangan stunting (gagal tumbuh) yaitu:
1.       Pola Asuh
Stunting dipengaruhi oleh aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan balita.
2.       Pola makan
Selain memperhatikan komposisi menu makanan sesuai dengan tabel “isi piringku”, kita harus minum minimal 8 gelas air putih dalam sehari an selalu rutin memantau berat baan kita setiap bulannya.
3.       Sanitasi
Sulitnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk dapat memiu stunting pada anak. Sanitasi Total Berbasis Lingkungan (STBL) dicanangkan pemerintah mengurangi penyakit stunting.

Permasalahan stunting merupakan problem yang tidak boleh dipandang dengan sebelah mata, pemerintah selaku pemangku kebijakan perlu memprioritaskan permasalahan ini. Sebab, ini menyangkut generasi bangsa. Kiat pemerintah dalam membangun infrastruktur tidak sebanding dengan kiat melawan ancaman stunting. Indonesia tidak butuh jalan tol, indonesia butuh jalan pikiran.

(Riza Fahlevi.2019)

info lebih lanjut:
Tweetter: @SahabatYAICI
Instagram: @sahabatyaici
www.yayasanabhipraya.or.id/
Author Image

About Fahlevinisme.blogspot.com
Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

Tidak ada komentar:

Posting Komentar