Selasa, 11 Februari 2020

#Feminist Laki-laki

0
Cinta, Politik & Perempuan.
(Oleh: Riza Fahlevi)

Asma Nadia pernah berkata, "Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?".

Apakah karena teori "Logos spermatikos" yang menempatkan perempuan pada posisi pasif yang tidak perlu melakukan apa-apa, hanya menunggu untuk diisi saja? Atau karena alasan kodrati naluri laki-laki yang bebas melakukan apapun sesuka hati? Atau apakah "naluri" atau hanya sekedar "nafsu" belaka?

Seorang perempuan tidak lahir merdeka. Ia lahir dalam stigma: bahwa ia berkedudukan di bawah laki-laki. Bahwa ia bukan penyandang hak politik. Bahwa ia bukan pengucap ayat-ayat surga. Bahwa ia bukan pemikir rasional. Bahwa ia harus submisif dalam seks. Bahwa ia bukan dirinya..!

Imperatif ini bekerja dalam psikologi politik kekuasaan: bahwa tubuh perempuan adalah objek seksual. Bahwa kamera infotainmen adalah mata laki-laki. Bahwa sogokan seks adalah hak pembimbing akademik. Bahwa APBN bukan urusan perempuan.

Sesungguhnya, pada tubuh perempuan, melekat seluruh jenis ketidakadilan: ekonomi, politik, seksual, hukum, kultur, cinta. Dari sinisme akademisi hingga perda-perda misoginis, diskriminasi itu membuat kita buta huruf tentang peradaban. Perempuan tak lahir merdeka. Ia lahir untuk memerdekakan dirinya. Dengan itu ia memerdekakan peradaban.

Cinta dan politik pada dasarnya memiliki tujuan moral yang sama yaitu KEADILAN. Meskipun lelaki memiliki kesempatan untuk hidup bersama dengan lebih dari satu perempuan asalkan mampu berlaku adil, tapi menurutku sebaik-baik laki-laki adalah yang mencintai dan hidup bersama satu perempuan. Dan itu keadilan yang sesungguhnya.

(Riza Fahlevi. 2020)
Author Image

About Fahlevinisme.blogspot.com
Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

Tidak ada komentar:

Posting Komentar