Selasa, 19 Mei 2020

6

#IndonesiaTerserah.

Oleh: Riza Fahlevi

Ada janin yang harusnya mempunyai kesempatan melihat dunia tapi tak sempat oleh sebab sang ibu telah lebih dulu menghadap sang pencipta.
Ada sekumpulan orang-orang dengan gagah diatas panggung bernyanyi seolah-olah sedang bereuforia merayakan kemenangan, padahal rakyatnya mati dengan airmata berlinang.
Ada gerombolan orang-orang bringas yang sibuk membabi buta, mengacaukan tempat ibadah, seolah-olah dia adalah mahkluk suci didunia.
Di ruang sempit, tidak terlalu banyak oksigen, dibawah suhu 16’ celsius, tetapi tubuhnya kepanasan, menghirup udara berkepayahan, bertarung dengan waktu, berpacu dengan takdir, rela berjam-jam diruang sempit itu, berhari-hari, bahkan berbulan tidak bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.

Hari-hari yang kita lalui dimasa pandemi seolah-olah kita hidup dalam republic of fear (republik ketakutan). setelah tiga bulan sejak adanya kasus positif Covid-19, kita belum tiba pada puncaknya, curva masih mengalami fluktuasi, berubah-ubah namun cenderung meningkat. Berbagai upaya dan kebijakan telah dilakukan, namun tidak ada satupun yang berjalan maksimal dan seperti ysng diinginkan, karena kebijakan pemerintah yang plin-plan tanpa kepastian.

Seperti pemberlakuan PSBB, namun diperlonggar. Dilarang mudik, tapi membolehkan pulang kampung. Mengeluarkan fatwa agar tempat-tempat ibadah ditutup, tapi bandara dibuka, pasar ramai, mall-mall berdesakan. Ribuan pekerja di PHK, jutaan rakyat menderita, solusi dari pemerintah “naikkan BPJS”.

Akibat dari kebijakan yang plin-plan, kasus positif Corona mencapai angka 18.496. angka yang lumayan fantastis bukan! Dengan tingkat kesadaran masyarakat yang rendah, serta faktor kebijakan politik yang berubah-ubah, bukan tidak mungkin wabah ini akan sulit diatasi dalam waktu dekat.

Salah satu contoh, Wuhan Chinna tempat bermulanya wabah ini beberapa waktu yang lalu sudah tidak ada kasus positif lagi, namun baru-baru ini mereka sedang bersiap-siap adanya cluster baru virus ini. Korea Selatan yang dianggap mampu mengendalikan pandemi ini dengan tingkat kasus yang turun dengan signifikan sekarang tengah menghadapi serangan gelombang kedua Covid-19. Wow.. mengejutkan bukan, seperti tidak ada habisnya.

Selama vaksin Covid-19 belum ditemukan, wabah ini akan selalu menjadi ancaman. Michael Stolhom dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) beberapa waktu lalu mengatakan, “vaksin baru ditemukan paling cepat 18 bulan”. Sedangkan sistem imun dalam tubuh manusia baru mulai terbentuk sekitar dua tahun setelah suatu penyakit (virus) berdampak pada jumlah banyak.
Dari beberapa keterangan tersebut membawa kita tiba pada suatu kesimpulan bahwa kebijakan yang salah akan berakibat fatal dan menyebabkan kehilangan nyawa manusia.

Angka kematian yang disebabkan oleh Covid-19 mencapai 1.221 jiwa. Tidak hanya masyarakat umum, puluhan dokter serta tenaga kesehatan yang berjuang di garda terdepan ikut menjadi korban.

Tagar #IndonesiaTerserah adalah suatu bentuk protes dari dokter, tenaga kesehatan, dan relawan yang berjuang digarda terdepan menghadapi wabah Covid-19. Protes terhadap apa? Tentu saja protes terhadap kebijakan politik yang inkonsistensi, protes terhadap orang-orang yang berkeliaran, protes kepada pemegang kekuasaan yang lebih mementingkan kalkulasi ekonomi daripada nyawa rakyat sendiri. Karena kebijakan yang buruk mengakibatkan bayi yang masih dalam kandungan yang seharusnya dapat melihat indahnya senja disore hari menjadi korban.

Tidak, para dokter, tenaga kesehatan dan relawan sama sekali tidak menyerah. Ia akan selalu berjuang sekuat tenaga dan segenap jiwa menyelamatkan nyawa manusia. Bukan tentang mengejar apresiasi, tetapi tentang pengabdian kepada ibu pertiwi dan amanah dari illahi.

Dalam sejarah, pandemi terparah terjadi di Spanyol pada tahun 1918. Flu ini berlangsung selama dua tahun dalam tiga gelombang. Tercatat 500 juta orang terinfeksi dan 50-100 juta kematian. Namun sebagian besar kematian terjadi di gelombang kedua. Ketika masyarakat sudah sangat merasa tidak nyaman dengan karantina da jarak sosial, ketika mereka dibolehkan keluar rumah lagi, masyarakat berbondong-bondong merayakannya dengan sukacita dijalan-jalan. Beberapa minggu kemudian serangan gelombang kedua terjadi dengan puluhan juta kematian.

Dalam sejarah kita kenal dengan teori Butterfly Effect atau Chaos Theory, yaitu "kepak sayap kupu-kupu di hutan Amazon dapat menyebabkan badai di California". Teori tersebut merupakan metafora terhadap suatu kondisi dimana hal kecil yang dilakukan dapat menyebabkan dampak yang sangat signifikan. Kebijakan politik yang salah akan berdampak pada ratusan bahkan ribuan orang kehilangan nyawa.

 Kita tentu saja menginginkan kehidupan normal seperti sediakala, berjalan ditrotoar, ngopi di caffe-caffe, menghabiskan waktu bersama teman-teman, tetapi untuk saat ini kita musti bijak dalam bersikap, menekan egoisme dalam diri bahwa saat ini kita tengah sama-sama berjuang menghadapi pandemi, bahwa dengan sikap kita yang tetap berada dirumah serta berprilaku hidup bersih dan sehat adalah salah satu upaya melindungi orang-orang yang kita cintai.

Dari teori butterfly effect kita belajar bahwa hal yang kecil yang kita lakukan akan berdampak besar di masa depan. So.. mari sama-sama, #KitaHadapiBersama.

(Riza Fahlevi. Di Bumi)

Author Image

About Fahlevinisme.blogspot.com
Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

6 komentar:

  1. Semoga pandemi ini cepat berakhir ya bang, nyesek gak bisa kemana2. Kitanya diam di rumah, gak mudik. Yg di kampung santuy ke mall, ke pasar

    djangki.wordpress.com / KBJ

    BalasHapus
  2. Semoga Banyak hikmah yg bisa kita petik.

    BalasHapus
  3. Semoga tuhan menyudahi hukuman ini amin

    BalasHapus